Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hubungan antara agama dan moral


Banyak teman-teman yang bertanya apa hubungan antara agama dan moral. Mungkinkah orang bisa mempunyai moral baik tanpa beragama?

Hubungan antara agama dan moral

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, ada baiknya kita ketahui terlebih dahulu pengertian agama dan pengertian moral.

PENGERTIAN AGAMA


Dalam agama terdapat aturan-aturan tentang bagaimana menjalani hidup di dunia ini baik hubungannya dengan sesama manusia, manusia dan lingkungannya dan manusia dengan Tuhannya.

Agama menjelaskan dan menunjukan nilai-nilai kebaikan bagi manusia untuk keberlangsungan hidup demi memperoleh pengalaman yang lebih baik. Melalui agama, kehidupan dapat lebih dipahami dan secara pribadi dapat dirasakan lebih bermakna.

Pengertian Agama menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1. Menurut Anthony F.C Wallance, Agama sebagai seperangkat upacara yang diberi rasionalisasi lewat mitos dan menggerakkan kekuatan super natural dengan maksud untuk mencapai terjadinya perubahan keadaan pada manusia dan semesta.


2. Menurut Sultan Takdir Alisyahbana, Agama adalah suatu sistem kelakuan dan perhubungan manusia dengan rahasia kekuasaan dan keajaiban yang tiada terhingga luasnya, dan dengan demikian memberi arti kepada hidupnya dan kepada alam semesta.

3. Menurut Emile Durkheim, Agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci.

4. Menurut Sidi Gazalba, Agama adalah kecenderungan rohani manusia yang berhubungan dengan alam semesta, nilai yang meliputi segalanya, makna yang terakhir, hakekat dari semuanya.

5. Menurut Parsons, Agama adalah tingkat yang paling tinggi dan paling umum dari budaya manusia.

6. Menurut A.M Saefudin, Agama merupakan kebutuhan manusia yang paling esensial yang bersifat universal.

FUNGSI, PERAN, DAN TUJUAN AGAMA


1. Fungsi Agama

  • Sumber Kehidupan untuk individu maupun kelompok
  • Hubungan menyesuaikan prosedur manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.
  • Persyaratan prinsip benar atau salah.
  • Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan.
  • Pedoman merasa percaya diri adanya pedoman.
  • Memberikan Identitas kepada orang-orang berbagai umat Agama.


2. Peran Agama

  • Sebagai peningkat Etos kerja dalam kehidupan
  • Mengendalikan dan mengarahkan penggunaan teknologi untuk kepentingan manusia.
  • Sebagai rambu-rambu peraturan dalam hidup.


3. Tujuan Agama

  • Menegakkan kepercayaan manusia hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • Mengatur kehidupan manusia didunia, agar kehidupan teratur dengan baik, sehingga dapat mencapai kesejahteraan hidup, lahir dan batin, dunia dan akhirat.
  • Menjunjung tinggi dan melaksanakan peribadatan hanya kepada Tuhan.
  • Menyempurnakan Akhlak manusia.


PENGERTIAN MORAL


Moral berasal dari kata latin “Mos” yang dalam bentuk jamaknya “Mores” yang berarti adat atau cara hidup.

Moralitas (dari kata sifat latin moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral. Hanya ada nada lebih abstrak. Kita berbicara tentang moralitas suatu perbuatan artinya segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya,. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk.

Pendidikan moral seyogyanya sudah harus diberikan kepada manusia sedari mereka kecil. Maka orang tua berperan sangat penting dalam pembentukan moral anaknya kelak.

Moral merupakan sikap yang bersifat baik yang dapat diterima oleh masyarakat sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dilingkungannya, maka manusia diharapkan memiliki moral karena hal tersebut penting demi berlangsungnya sosialisasi terhadap lingkungannya.

Pengertian Moral menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1. Menurut Zainuddin Saifullah Nainggolan, Moral adalah suatu tendensi rohani untuk melakukan seperangkat standar dan norma yang mengatur perilaku seseorang dan masyarakat.


2. Menurut Gunorsa, Moral adalah suatu rangkaian nilai dari berbagai macam perilaku yang wajib dipatuhi.

3. Menurut Wantah, Moral adalah sesuatu yang berkaitan atau berhubungan dengan kemampuan menentukan benar atau salah, baik atau buruknya tingkah laku.

4.  Menurut Sonny Keraf, Moral menjadi tolak ukur yang dipakai masyarakat untuk menentukan baik buruknya tindakan manusia sebagai orang dengan jabatan tertentu atau profesi tertentu.

5. Menurut Chaplin, Moral mengacu pada akhlak yang sesuai dengan peraturan sosial, menyangkut hukum, atau adat kebiasaan yang mengatur tingkah laku.

JENIS DAN WUJUD MORAL


Wujud moral dalam diri seseorang dapat terlihat dari penampilan dan perilakunya secara keseluruhan. Adapun beberapa macam moral adalah sebagai berikut:

1. Moral Ketuhanan

Moral Ketuhanan adalah semua hal yang berhubungan dengan keagamaan/ religius berdasarkan ajaran agama tertentu dan pengaruhnya terhadap diri seseorang.

Wujud moral ketuhanan, misalnya melaksanakan ajaran agama yang dianut dengan sebaik-baiknya. Contoh; menghargai sesama manusia, menghargai agama lain, dan hidup rukun dengan yang berbeda agama.

2. Moral Ideologi dan Filsafat

Moral ideologi dan filsafat adalah semua hal yang berhubungan dengan semangat kebangsaan, loyalitas kepada cita-cita bangsa dan negara.

Wujud moral ideologi dan filsafat, misalnya menjunjung tinggi dasar negara Indonesia yaitu Pancasila. Contoh; menolak ideologi asing yang ingin mengubah dasar negara Indonesia.

3. Moral Etika dan Kesusilaan

Moral Etika dan Kesusilaan adalah semua hal yang berkaitan dengan etika dan kesusilaan yang dijunjung oleh suatu masyarakat, bangsa, dan negara secara budaya dan tradisi.

Wujud moral etika dan kesusilaan, misalnya menghargai orang lain yang berbeda pendapat, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Contoh; mengucapkan salam kepada orang lain ketika bertemu atau berpapasan.

4. Moral Disiplin dan Hukum

Moral Disiplin dan Hukum adalah segala hal yang berhubungan dengan kode etika profesional dan hukum yang berlaku di masyarakat dan negara.

Wujud moral disiplin dan hukum, misalnya melakukan suatu aktivitas sesuai dengan aturan yang berlaku. Contoh; selalu menggunakan perlengkapan yang diharuskan dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas ketika berkendara di jalan raya.

HUBUNGAN AGAMA DAN MORAL


Geertz menganggap bahwa etos atau seperangkat moral dan motivasi merupakan bagian dari agama. Jika agama memfokuskan kepada sesuatu yang memberi makna kepada seluruh kehidupan, maka obyek yang dipuja harus menjadi suatu nilai yang signifikan atau sesuatu yang dapat dinyakatan dan dapat menjadi sumber dari segala sesuatu yang ada. 
Di dalam pemujaan, maka nilai sentral yang dipuja itu dikagumi, dihormati dan diyakini mempunyai sifat-sifat kesempurnaan, serta diyakini mampu memberikan pertolongan dan sanksi kepada penganutnya (Djamari, 1988).


Nilai moral sendiri merujuk kepada nilai-nilai kemanusiaan, itu tidak serta merta berarti bahwa nilai-nilai moral yang bersumber pada agama itu dinafikan. Justru ketika dialog dilakukan, nilai-nilai agama yang dianut pasti secara tidak langsung akan melebur di sana.

Orang-orang yang terlibat dalam dialog pasti akan membawa aspirasi dan nilai-nilai agama yang diimaninya. Agama dan moralitas itu tidak sama. Namun, nilai-nilai agama dan nilai-nilai kemanusiaan itu sebetulnya tetap saling mengandaikan, saling memperkuat, dan mengembangkan satu sama lain.

Antara moralitas dan agama itu sama sekali tidak saling menafikan dan meniadakan satu sama lain.

Dari pengertian diatas, dapat ditarik satu kesimpulan bahwa hubungan antara agama dan moral tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Moral tanpa agama hanya berfokus pada bersikap baik hanya dari sisi luar saja. Sebab akibat di dalamnya tidak begitu dalam dan lebih mementingkan hubungan baik sesama manusia.

Agama tanpa moral bagaikan berjalan lurus tanpa memperhatikan sekitar. Hidupnya lebih mementingkan hubungan antara manusia dengan tuhan, tanpa peduli hubungan kemanusiaan.

Semoga artikel ini bermanfaat buat teman-teman semua.

wiwid kurniawan
wiwid kurniawan Seorang Blogger pemula yang belajar merangkai kata kata sederhana

Post a Comment for "Hubungan antara agama dan moral"